Februari 2024, jam tujuh pagi. Gue baru buka laptop di meja kopi dekat kantor, dan notifikasi LinkedIn muncul di layar. Teman satu angkatan gue, yang dulu sama-sama nggak bisa bikin slide PowerPoint, ngumumin timnya udah 11 orang. Foto grup. Seragam. Kantor baru.
Gue lihat layar gue: satu file Excel, tiga draft artikel yang belum selesai, dan folder bernama "belum jadi" yang isinya 14 proyek. Kopi gue dingin. Gue tutup laptopnya dan pulang dengan perasaan yang nggak enak, tapi nggak bisa gue jelasin waktu itu.
Sekarang gue tau nama perasaan itu. Bukan iri. Itu rasa takut bahwa gue main di level yang salah.
Yang Sebenarnya Gue Takutin
Selama setahun sebelum momen itu, gue percaya satu hal yang salah total: bahwa skalanya bisnis ditentukan jumlah orang di dalamnya. Sepuluh orang berarti bisnis serius. Satu orang berarti cuma hobi yang dibungkus rapi.
Jadi gue coba "naik level". Gue ajak dua orang buat bantu. Gue bikin brief, bikin jadwal, bikin grup chat. Hasilnya? Tiga bulan kemudian jalan. Bukan karena dua orang itu nggak becus. Karena gue nggak pernah punya sistem. Gue cuma punya semangat.
Yang paling jujur: gue pindah tugas, tapi gue tetap jadi bottleneck-nya. Setiap keputusan kecil mampir ke gue dulu. Kalau gue libur satu hari, semuanya nunggu. Gue bukan bikin tim, gue bikin antrean.
Momen di Mana Gue Berhenti Ngitung Orang
Sore, minggu berikutnya. Gue duduk sama seorang kawan yang udah lama jalanin bisnis konsultan sendiri. Gue cerita soal kawan yang punya tim sebelas orang, dan gue bilang gue ngerasa ketinggalan.
Dia nanya satu kalimat yang masih gue inget sampai sekarang: "Lo tau nggak mereka ngeluarin biaya berapa per bulan buat gaji sebelas orang itu?"
Gue diem. Gue nggak tau.
Dia lanjut. Tim sebelas orang itu bukan cuma prestasi. Itu juga beban tetap tiap tanggal satu. Kalau bulan itu pemasukan turun, mereka tetep harus bayar sebelas gaji. Dan tiap orang butuh briefing, koordinasi, dan rapat yang nggak bikin produk jadi.
Gue pulang, buka laptop, dan mulai ngitung. Bukan ngitung orang. Gue ngitung berapa jam gue bisa keluar output per minggu kalau gue nggak nunggu siapa-siapa. Ternyata angkanya lumayan. Yang gue kurang bukan orang. Yang gue kurang itu tangan kedua.
Sejak malam itu gue berhenti ngejar jumlah orang. Gue mulai ngejar jumlah output.
Sebelum Gue Ngerti Ini, Gue Salah Melulu
Mental Model yang Gue Pakai Sekarang
Nambah satu orang itu komitmen tiap bulan. Nambah satu template itu sekali kerja, jalan terus. Kalau masih bisa dijadiin sistem, jangan dijadiin gaji.
Tim sepuluh orang butuh rapat buat ambil keputusan. Satu orang tinggal mutusin. Dalam pasar yang berubah cepat, jarak nol antara mikir dan ngeksekusi itu keunggulan yang nggak bisa dibeli pakai uang.
Konten, balasan chat, riset awal, ringkasan. Yang polanya sama tiap hari, itu yang diserahkan ke alat. Yang butuh penilaian manusia, itu yang lo simpen.
Kalau lo salah jalur sebagai satu orang, lo bisa pindah arah minggu depan. Kalau lo salah jalur dengan sebelas karyawan, lo pindah arah sambil nanggung sebelas keluarga. Hati-hati dengan yang susah dibatalin.
Gue nulis ini dari kesalahan sendiri, bukan dari buku. Gue pernah ngerasa gagal karena cuma satu orang. Yang gue pelajarin: yang bikin gue gagal waktu itu bukan jumlah orangnya. Yang bikin gue gagal adalah gue nggak punya cara kerja yang bisa jalan tanpa gue bangunin pagi-pagi. Sistem dulu, tim kemudian, dan hanya kalau memang perlu.
Bagian yang Gue Serahin ke Mesin
Kalau lo mau lihat versi lebih rinci soal cara gue jalanin satu jasa dulu sebelum mikir tim, gue tulis di artikel soal mulai dari satu jasa yang orang udah bayar. Dan kalau lo masih kerja kantoran sambil bangun bisnis, ada catatan jujur gue di cerita hampir nyerah bangun bisnis sambil kerja. Dua-duanya dari pengalaman langsung, bukan teori.
Yang paling bahaya bukan ngerasa kekecilan. Yang paling bahaya itu ngejar keramaian buat menutup rasa nggak aman. Nambah orang bikin lo ngerasa maju, padahal lo cuma nambah beban. Kalau lo nambah orang, pastikan alasannya beban kerja yang beneran penuh, bukan perasaan pengen keliatan lebih serius.
Yang Gue Mau Lo Bawa Pulang
Ukuran tim bukan ukuran kualitas. Kalau satu orang bisa jalan karena sistemnya bener, jumlah orang yang lebih banyak cuma nambah biaya dan nambah rapat. Bangun sistemnya dulu sampai beneran mentok. Kalau belum mentok, lo belum butuh orang baru. Lo butuh cara kerja baru.