Minggu lalu gue buka folder kerjaan lama buat nyari satu berkas penawaran yang gue tulis enam bulan lalu. Gue baca dari kalimat pertama sampai bagian harga. Bentuknya sama dengan penawaran yang gue tulis minggu ini. Urutannya sama, cara gue ngasih alasan harganya juga sama.
Yang bikin gue diem bukan kesamaan itu. Di antara dua tanggal itu gue ngerjain puluhan kerjaan, nyoba beberapa alat baru, dan baca banyak hal. Tapi mutu hasil kerja gue nggak gerak. Gue sibuk, dan hasilnya bentuknya sama aja.
Gue telusuri kenapa. Jawabannya nggak nyaman: nggak ada satu orang pun di jalur kerja gue yang tugasnya nge-review hasil gue.
Waktu gue masih kerja kantoran, tiap kerjaan lewat meja atasan gue. Dia baca, coret satu bagian, dan bilang kalimat yang waktu itu nggak gue suka dengar: ini belum.
Sejak kerja sendiri, yang baca kerjaan gue cuma klien. Klien cuma ngasih dua jawaban: lanjut atau nggak lanjut. Dua jawaban itu nggak ngasih tahu apa yang salah di cara kerja gue. Dia cuma ngasih tahu hasil akhirnya diterima atau nggak.
Enam Bulan Lalu dan Hari Ini Isinya Sama
Enam bulan lalu: gue kirim penawaran, klien setuju, dan gue anggap cara gue udah bener.
Minggu ini: bentuk penawarannya sama, dan ada klien yang nanya hal persis sama kayak klien enam bulan lalu.
Satu pertanyaan yang muncul dua kali belum tanda apa-apa. Gue cek arsip chat gue, dan pertanyaan yang sama muncul empat kali dari empat orang yang beda. Isinya soal hal yang mestinya udah kelar sebelum mereka bayar, bukan di chat.
Kalau pertanyaan yang sama berulang dari orang beda, yang perlu dibenerin bukan jawaban gue. Yang perlu dibenerin dokumen yang mereka baca duluan. Gue pernah ngalamin versi ini di jalur harga, dan gue tulis lengkap di catatan soal jasa murah yang nggak selalu lebih gampang dijual.
Tiga Pertanyaan, Satu Duduk 30 Menit
Ritualnya sesederhana ini. Sabtu pagi atau Sabtu sore, gue buka laporan chat seminggu dan catatan gue, lalu jawab tiga pertanyaan yang sama. Pertanyaannya nggak berubah tiap minggu, karena jawaban atas pertanyaan yang berubah susah dibandingkan.
- 1Kerjaan apa minggu ini yang masih 100% manual, padahal bisa dibikinin alat atau dibantu AI? Contohnya rekap data, ganti nama berkas, atau ngirim pengingat yang isinya sama tiap minggu.
- 2Klien komplain atau menanyakan apa lebih dari sekali minggu ini? Contohnya balasan telat, file susah dibuka, atau revisi bolak-balik.
- 3Tugas apa yang loe sendiri males buka karena ribet atau rancu? Tugas ini bukan tugas yang harus dikerjain lebih rajin. Tugas ini yang harus di-desain ulang.
Abis jawab, gue tulis tiga baris kesimpulan di catatan. Bukan laporan panjang, bukan dokumen rapi. Tiga baris cukup, karena yang gue butuh cuma bahan buat minggu depan.
Yang paling sering ketemu di pertanyaan pertama bukan kerjaan besar. Biasanya kerjaan kecil yang gue kerjain sepuluh menit tiap hari. Setelah dihitung, itu makan lebih dari satu jam tiap minggu. Cara mecah kerjaan model gitu gue tulis di catatan 3 dari 4 kerjaan berulang yang nggak butuh AI.
Senior Murah: Suruh Review Keras
Bagian yang bikin ritual ini kerasa punya senior: gue tempel ringkasan kerjaan seminggu plus tiga jawaban tadi ke AI, lalu gue minta dia nge-review keras.
Banyak orang salah di bagian ini. Mereka minta masukan, dan yang keluar pujian. Yang gue minta beda, dan kalimatnya gue tulis apa adanya.
-
Prompt Review Keras Mingguan
Ini ringkasan kerjaan saya satu minggu plus jawaban tiga pertanyaan review. Sebut yang nggak jalan dari kerjaan ini, jujur, tanpa ngelembut. Minimal 3 kelemahan, urutin dari yang paling mahal dampaknya. Lalu kasih 1 langkah kecil buat minggu depan, khusus buat lepas hasil paling bermasalah itu. [tempel ringkasan kerjaan dan 3 jawaban pertanyaan review di sini]
Perhatikan tiga hal di permintaan itu. Jumlah kelemahannya ditentukan, jadi AI nggak bisa berhenti di satu. Urutannya diminta dari yang paling mahal dampaknya, jadi gue nggak ngerjain yang paling gampang duluan. Langkah minggu depannya dibatasi satu, karena daftar perbaikan yang panjang nggak akan jalan.
AI yang gue pakai nggak kenal gue dan nggak pernah lihat kerjaan gue sebelumnya. Dia juga nggak punya alasan buat ngelembut. Itu justru yang bikin dia kepakai buat pekerjaan ini. Yang gue bayar cuma pemakaian, nggak ada langganan bulanan yang harus gue tahan setahun.
Kalau loe belum pernah nyuruh AI nge-review kerjaan loe sendiri, mulai dari kerjaan yang loe udah jago. Bahan yang loe kuasai bikin loe bisa ngecek jawabannya masih masuk akal atau nggak, seperti yang gue tulis di catatan soal mulai AI dari kerjaan yang loe udah jago.
Catatan gue: dulu gue nunggu ada orang yang lebih senior buat nunjukin mana yang salah dari kerjaan gue. Nunggunya lama, dan orangnya nggak datang. Sekarang gue jadwalin 30 menit tiap Sabtu, dan gue sendiri yang nge-review kerjaan gue. Yang berubah bukan jam kerja gue, tapi mutu yang keluar di jam yang sama.
Tiga Langkah Minggu Ini
Tulis jadwalnya sebelum nyalain komputer
Blok 30 menit di kalender, Sabtu pagi. Jadwal yang cuma nempel di kepala bakal kalah sama kerjaan lain yang nongol.
Buka laporan chat, jawab tiga pertanyaan, tulis tiga baris
Nggak usah bikin dashboard baru. Catatan biasa cukup, dan biaya ritual ini Rp 0.
Ambil satu kelemahan paling mahal, jadwalin blok kerjanya
Satu langkah kecil buat minggu depan, bukan sepuluh. Sisa temuannya masuk daftar tunggu, jangan dikerjain sekarang.
Tips
Kalau jawaban pertanyaan ketiga cuma satu baris dan isinya males banget, itu tanda tugasnya perlu dipecah. Catat tugas yang paling bikin males dulu, bukan yang paling gampang.
Peringatan
Hasil review yang cuma jadi catatan dan nggak dijadwalin jadi blok kerja minggu depan cuma jadi penyesalan. Tulis langkah pertamanya di kalender sebelum loe nyalain komputer minggu depan.
Checklist Review Sabtu, Salin dan Simpan
Simpan tiga pertanyaan ini di catatan loe: pertama, kerjaan apa minggu ini yang masih 100% manual, padahal bisa dibikinin alat atau dibantu AI? Kedua, klien komplain atau menanyakan apa lebih dari sekali minggu ini? Ketiga, tugas apa yang loe sendiri males buka karena ribet atau rancu? Setelah jawabannya ada, minta review keras: sebut yang nggak jalan, minimal tiga kelemahan, urut dari yang paling mahal dampaknya, lalu satu langkah kecil buat minggu depan.